RSS
Tampilkan postingan dengan label Makalah Pengendalian Audit Sistem Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah Pengendalian Audit Sistem Informasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Januari 2016

AUDIT SISTEM INFORMASI

BAGIAN IV
AUDIT SISTEM INFORMASI

Teknik Audit Berbantuan Komputer
Teknik audit berbantuan komputer (TABK) atau dalam Bahasa Inggris sering disebut dengan Computer Assisted Audit Techniques (CAATs) adalah pelaksanaan pengumbulan bahan bukti audit dengan menggunakan komputer. Audit berbantuan komputer dapat menggunakan software paket (Pakage Software) dan general uaudit software, maupun application software (user designed), atau bahkan dengan memanfaatkan paket aplikasi dari Microsoft, misalnya Exell.

PENDAHULUAN
Pada pendekatan audit dengan komputer , audit dilakukan dengan menggunakan komputer atau software untuk mendukung pelaksanaan pemeriksaan. Audit with the computer tidak saling meniadakan dengan pendekatan audit yang lain; maksudnya, audit with the computer bias dilakukan dalam audit around maupun through the computer. Sebaliknya, audit around the computer maupun audit through the computer juga dapat dilakukan tanpa berbantuan komputer. Dalam audit around the computer yang dilakukan adalah pemeriksaan dengan menganggap system komputerisasi sebagai black-box (“kotak hitam”). Pada audit through the computer auditor juga memeriksa system komputerisasi (program-program dan file-file). Dalam pemeriksaan tersebut auditor dapat melakukannya dengan berbantuan komputer, tetapi bias juga dengan bantuan komputer.
Sebetulnya audit with the computer mempunyai pengertian yang luas, yaitu kegiatan audit dengan menggunakan komputer sebagai alat bantu. Bantuan komputer dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan pengetikan/ penyusunan laporan, penyusunan jadwal, table-tabel/ matriks, pembuatan grafik, pemilihan sample, dan kegiatan pengujian/tes dengan komputer (pengumpulan dan evaluasi bukti audit; test of controls maupun substantive test).
Sedangkan TABK atau CAAT adalah hanya pengguna komputer dalam pelaksanaan audit saja. Berbagai jenis pengguna komputer dalam audit disebut dengan istilah Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK). Dalam audit laporan keuangan dengan TABK, audit dilaksanakan terhadap system akuntansi berbasis komputer, yang ruang lingkup yang sebenarnya tetap, yaitu memberikan opini atau fairness dan kesesuaian sistem akuntansi dengan standar akuntansi keuangan.
Masalahnya karna yang diaudit adalah sistem berbasis komputer, mungkin auditor harus mempertimbangkan teknik-teknik berbantuan komputer dalam pelaksanaan audit. Pendekataan CAATs antara lain: generalized audit software, system control audit review file (SCARF), snapshot, ITF, PTF dan sebagainya.
Pendekatan audit dengan bantuan komputer merupakan cara audit yang sangat bermanfaat untuk pengujian subtantif atau file/ data/ record perusahaan. Teknik audit berbantuan komputer melibatkan komputer atau software audit untuk membantu pengujian serta evaluasi file / data perusahaan relatif lebih mudah dibandingkan dengan pengujian terhadap program maupun prosedur pengolahan data. Pelaksanaan Pemeriksaan program atau sistem memerlukan keahlian tertentu auditor dalam bidang teknologi informasi. Hal ini yang perlu diingat ialah bahwa pengguna software audit perlu pertimbangan antara biaya dan manfaat.
Audit with the computer mempunyai arti luas, yaitu: kegiatan-kegiatan persiapan, pelaksanaan dan pelaporan audit dengan bantuan komputer. Dukungan komputer digunakan dalam teknik pengujian pengendalian intern dan pengujian subtantif maupun kegiatan lain misalnya pengetikan-pengetikan surat (termasuk konfirmasi), pemilihan sample, penyusunan pengolahan kertas kerja pemeriksaan, pelaporan dan kegiatan administratif lain dalam kaitannya dengan audit . jadi yang tercakup dalam audit adalah:
- Penggunaan komputer untuk kegiatan administrative, pengetikan pembuatan table-tabel pelaporan, matriks data bukti audit, grafik, surat konfirmasi, risalah-risalah, atau rencana kerja, maupun penyajian jadwal kegiatan, pemeriksaan.
- Penggunaan komputer atau audit software dalam pengumpulan bahan bukti auditm, serta penggunaan alat bukti software untuk mengidentifikasi hal-hal tertentu yang diperlukan sebagai bahan bukti audit.
Secara lebih rinci, kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu komputer dalam pelaksanaan audit adalah:
- Audit Sampling, dalam audit sampling ini komputer dapat berperan dalam menghitung parameter sample, memilih sample, dan menilai hasil sample.
- Simulasi,komputer digunakan dalam menilai software yang dimiliki oleh client.
- Pengumpulan data yang akan diuji , pengumpulan data dilakukan dengan catatan “tagged” (ber-label) yang digunakan bersama dengan Integrated Test Facility (ITF).
- Penelaahan analitis (annalistic review).
- Penyusunan kertas kerja pemeriksaan (KKP).
- Kalkulasi, pembandingan, dan manipulasi data lainnya akan menjadi lebih akurat.
- Kalkulasi telaah analitis akan lebih efisien, dan lingkupnya dapat diperluas.
- Informasi proyek seperti anggaran waktu dan pemonitoran waktu actual dan jumlah dianggarkan akan lebih mudah dihasilkan dan dianalisis.
- Korespondensi audit standar seperti kuesioner dan daftar periksa, surat proposal, dan format-format laporan dapat disimpulkan dan dimodifikasi secara mudah.
- Dengan dukungan komputer moral dan produktivitas biaya dapat ditingkatkan dengan mengurangi waktu untuk tugas-tugas klerikal.
- Peningkatan evektifitas biaya dapat diperoleh dengan menggunakan ulang-ulang aplikasi-aplikasi audit elektronik untuk audit peristiwa.
- Akan terjadi peningkatan indenpendensi karyawan-karyawan sistem informasi
- Cek atas rumus/ penjumlahan/ perkalian/ perehitungan bunga/ pajak diskon.
- Cek kelengkapan data, konsistensi, alokasi dan ketepatannya.
- Membanding integritas data (data integrity) antara file/ tahapan proses
- Membandingkan data antara berbagai prosedur audit yang dilaukan
- Memilih sampel bukti yang akan diaudut lebih lanjut
- Mencetak konfirmasi dan berbagai formulir atau surat lainnya.
Sudah barang tertentu ada beberapa prosedur audit terhadap pengendalian yang harus dilakukan langsung oleh auditor (secara manual), dari beberapa prosedur yang dapat menggunakan dukungan komputer seperti table berikut ini:
Pengendalian Intern & Prosedur Audit
No
Bidang Pengendalian yang Diaudit
Dengan
Bukti Audit
1
Perencanaan Organisasi, IT-Plan, maupun operation
Manual
Dokumen Plaining, risalah rapat direksi
2
Prosedur pengembangan aplikasi,system dokumentasi, review, testing, dan approving systems atau program dan perubahan
Manual
Hasil observasi, cek dokumentasi, hasil wawancara
4
Pengendalian Mesin/ equipment/ hardware/ systems software
Komputer
Produk pabrikan komputer/ software house sudah dilengkapi pengendalian
5
Pengendalian access equipment dan data/ file
Manual/ Komputer
Hasil interview mendalam dengan teknisi atau cek dengan software
6
Pengendalian menyeluruh terkait dengan data dan prosedur yang mungkin berdampak dengan keseluruhan operasi komputer
Manual
Observasi, bukti dokumentasi, SOP/ standard operating procedures tertulis, wawancara dan sebagainya.
Tabel 11.1. Control and audit procedures
Software audit diperlukan untuk
a. Menilai kualitasi sistem pengendalian intern pada sistem yang digunakan
b. Mengetahui bagaimana cara sistem software bekerja merusak sistem pengendalian komputer
c. Mengumpulkan bukti tentang kualitas sistem aplikasi, yang disebut sebagai utility program.

Pendekatan Pelaksanaan Audit
Kegiatan audit dilakukan dalam berbagai cara, yaitu antara lain: Menggunakan test deck dengan integrated test facility (ITF), parallel test facility (PTF) atau parallel simulation, dengan paket software (generalized atau specialized audit software) dengan sistem tagging & tracing, job analysis.

Teknik Audit Berbantuan Komputer
Teknik
Uraian
Contoh
Data uji
Data uji dientri untuk data yang absah dan yang tidak absah
Transaksi-transaksi penggajian yang nomor identifikasi karyawannya absah/ tidak absah
Fasilitas pengujian terpadu-integrated test facility (ITF)
ITF mencakup penggunaan data uji dan pembuatan record fiktif (pemasok, karyawan) dalam file master sistem komputer
Transaksi-transaksi penggajian untuk karyawan fiktif diproses secara bersamaan dengan Transaksi-transaksi penggajian yan g absah
Simulasi paralel
Pemprosesan data nyata melalui program audit. Keluaran simulasi dan keluaran nyata kemudian dibandingkan
Penghitungan penyusutan diferifikasi melalui pemrosesan file master aktiva tetap dengan program audit
Perangkat lunak audit
Program komputer yang memungkinkan komputer digunakan sebagai alat audit
Auditor menggunakan program komputer untuk mengambil data dari file master
Generalized audit software (GAS) perangkat lunak computer
GAS merupakan perangkat lunak audit yang dirancang secara khusus untuk memungkinkan auditor memproses data yang berkaitan dengan audit
Auditor menggunakan GAS untuk hal-hal yang tidak biasa. Paket spreadsheet komputer mikro digunakan untuk membuat kertas kerja dan lampiran-lampiran audit
Kegiatan audit terprogram Embedded audit routines (tersimpan dalam program)
Kegiatan audit khusus dalam program komputer sehingga data Transaksi dapat dianalisa
Unsur-unsur data yang dikecualikan dan di uji edit yang tercakup dalam program ditulis dalam file audit khusus
Catatan diperluas
Modifikasi program untuk mengumpulkan dan menyimpan data yang berkaitan dengan audit
Program gaji dimodifikasi untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan penyebaran lembur
Snapshot
Modifikasi program untuk membuat keluaran data yang berkaitan dengan audit
Program penggajian dimodifikasi untuk membuat keluaran data yang berkaitan dengan pembayaran lembur
Penjejakan
Penjejakan memberikan jejak audit rinci mengenai intruksi yang telah dilakukan selama operasi program
Program gaji dijejaki untuk jika uji edit tertentu dilaksanakan secara tepat
Bagan arus pengendalian
Bagan arus analitis atau teknik-teknik grafis yang digunakan untuk menjelaskan penendalian dalam system
Auditor menyajikan bagan arus analitis untuk menelaah pengendalian dalam sistem aplkasi penggajian
Pemetaan (Mapping)
Perangkat lunak khusus yang digunakan untuk memonitor pelaksanaan program
Pelaksanaan program dengan data uji sebagai masukan dipetakan untuk menunjukkan seberapa ekstensifnya input data menguji program tersebut
Audit dengan software package/ application
Melaksanakan audit dengan berbantuan komputer, khususnya dengan paket-paket program aplikasi, seperti : Microsoft Excel dan Access
Data di-down load ke file pada program aplikasi tersebut untuk diuji dalam beberapa hal, missal: cek duplikasi data, cek nilai limit, dan sebagainya.
Tabel 11.2 Teknik Audit Berbantuan Komputer

PADA BATCH PROCESSING ENVIRONMENT
A. Pendekatan Data Uji
Pendekatan data uji (test deck appr3oach) adalah merupakan pelaksanaan audit yang dilakukan dengan “using the auditor’s data with client’s software”. Maksudnya adalah menguji sistem komputerisasi auditee dengan menggunakan datanya auditor. Dalam hal ini auditor harus membuat satu set data buatan (dummy data) untuk dipakai menguji apakah pengendalian intern telah dijalankan sesuai dengan yang seharusnya.
Secara historis metode data uji merupakan teknik pertama dalam audit berbantuan komputer. Meskipun sangat terbatas dalam memberikan kemampuan untuk menguji logika rinci program komputer bagi auditor, tetapi auditor akan dapat memahami spesifikasi sitem dan dapat memanfaatkan hat tersebut untuk menentukan apakah sistem bekerja atau tidak.
Cara yang dilakukan auditor dalam pelaksanaan audit dengan metode data uji adalah auditor men-generate dummy data, kemudian di proses oleh sistem aplikasi dan komputer yang ada di auditee. Data uji yang dibuat auditor harus mencakup seluruh kemungkinan transaksi yang tidak sah atau salah agar dapat di tentukan apakah program komputer yang di uji bereaksi dengan tepat terhadap berbagai kesalahan dengan cara memeriksa daftar kesalahan dari perincian keluaran yang dihasilkan dari data pengujian.
Tes data buatan (dummy test data) lebih baik dari pada kalau memakai data (live real data) yang sebenarnya, karena:
- Dengan dummy test data dapat dibuat data yang lebih sedikit tetapi memenuhi seluruh kriteria yang diperlukan untuk dapat melakuklan test dengan baik.
- Dengan dummy data akan lebih mudah dibuat perkiraan keluaran (designed/ expected result), kalau data masukannya sudah direncanakan dengan matang akan menghasilkan tipe-tipe kesalahan yang seharusnya dideteksi program.
- Kemungkinan kesalahan yang dapat dibuat pada dummy data akan lebih kompherensif, memenuhi semua kemungkinan yang dapat diperkirakan oleh evaluator.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan data uji:
- Data uji harus mencakup seluruh kondisi yang diinginkan oleh auditor,baik data yang sah maupun tidak sah (error).
- Program yang diuji dengan data uji auditor harus sama seperti yang dipergunakan untuk operasional sepanjang tahun oleh klien (bukan program “palsu”).
- Data uji harus segera dihapus dari file klien segera setelah tes selesai, dengan maksud agar file sistem tidak terkontaminasi oleh data uji (bukan data transaksi sebenarnya).
- Pelaksanaan data uji harus menjamin bahwa data uji tidak mempengaruhi file data sungguhan, akan ironis jika suatu prosedur audit yang dirancang untuk mendeteksi kekeliruan justru membawa kekeliruan. Ini membutuhkan koordinasi antara auditor dan karyawan komputer.
- Auditor harus menjalankan pengendalian yang tepat.

Teknik data uji digunakan dalam pelaksanaan audit dengan cara memasukkan data (misalnya suatu contoh Transaksi) ke sistem komputer klien, dan membandingkan hasil yang diperoleh dengan hasil yang telah ditentukan sebelumnya (designed/expected result).
Contoh penggunaan teknik data uji :
- Data uji digunakan untuk menguji pengendalian khusus dalam program komputer, seperti on-line password dan pengendalian akses data.
- Data uji oleh auditor untuk menguji karakteristik (jenis kontrol) pengelolahan tertentu dari sistem komputerisasi yang diuji.
- Data uji umumnya diolah secara terpisah dari pengelolahan normal perusahaan, yang dilakukan oleh klien (operasional real/live data).
- Jika data uji diolah dengan pengolahan normal perusahaan, auditor harus mendapatkan keyakinan bahwa transaksi uji kemudian dihapus dari catatan akuntansi perusahaan.
B. Parallel simulation
Teknik simulasi pemrosesan secara parallel dilaksanaa. kan dengan “clien’s data, auditor’s software.”  Maksudnya ialah pelaksanaan pemerikasaan dilakukan terhadap data sesungguhnya (data audite yang di copy) dan diproses dengan software atau bahkan komputernya auditor. Data real ini sebelumnya di proses seperti  kegiatan rutin biasanya yang ada pada computer audite, selanjutnya data di copy dan diproses ulang ( simulasi proses) pada computer auditor. Laporan yang dihasilkan simulasi dibandingkan oleh auditor dengan laporan yang dihasilkan oleh pemrosesan rutin perusahaan: jika terjadi perbedaan , asumsinya perbedaan tersebut menunjukkan bahwa software perusahaan tidak memproses data sesuai dengan spesifikasi yang ada. Software yang dipakai dapat auditor controlled copy of the client program , dengan software audit tertentu yang dibuat auditor , computer mikro atau dengan generalized audit program.
Pada dasarnya system PTF ini dapat dibedakan menjadi 2 cara yaitu:
a. Parallel simulation
Dalam parallel simulation auditor akan meminjam dan diproses pada computer auditor , tetapi dengan system simulasi.
b. Parallel processing
Dalam parallel processing, auditor akan menjamin dan diproses pada computer auditor dengan system aplikasi yang juga dicopy dari computer auditee.
Teknik ini mensimulasikan proses yang dilaksanakan oleh client dengan memanfaatkan program auditor. Selanjutnya laporan simulasi dibandingkan dengan laporan yang dihasilkan pemprosesan rutin perusahaan. Jika terjadi perbedaan, maka perbedaan tersebut perlu diteliti penyebab-penyebabnya.


Keunggulannya metode audit berbatuan computer ini adalah :
Teknik ini memeriksan akurasi pemprosesan dari program aplikasi
Memungkinkan pensahan output sesungguhnya.
Cocok untuk pengujian subtantif maupun untuk complain teest
Audit dilakukan pada computer auditor atau computer lain / yang bukan sedang di audit, sehingga diperoleh keyakinan akan status system komputerisasi tersebut dengan lebih akurat .
Auditor dapat memproleh keyakinan lebih tinggi karena dengan system simulasi kalau ada hal-hal yang tidak dapat terdeteksi dengan uji coba saja, maka akan diketahui karena dicoba dengan system yang lain.
Tidak terjadi kontaminasi file client
Proses dapat dilakukan dengan computer pihak ketiga independen.
Auditor menggunakan data client sebenarnya.
Memungkinkan auditor bekerja secara terpisah dari personil clien, sehingga pelaksanaan audit lebih fleksibel
Kelemahannya adalah :
Program yang akan dipakai oleh simulasi oleh auditor perlu dibuat terlebih dahulu, dan mungkin memakan waktu dan biaya yang relative mahal
Auditor harus mempunyai keahlian computer yang cukup kompeten untuk dapat menelusuri kembali perbedaan antara 2 hasil program tersebut.
Perlu waktu untuk pengembangan system aplikasi untuk parallel .
Apabila perusahaan mengupdate program pada saat diperiksa tidak segera diketahui dan atau auditor juga harus segara mengupdate progaramnya.
Expensive to develop generalized audit software which adequately simulates the client’s software.
If  you should choose to use the client’s hardware, then EDP personnel can override the audit software by making modifications to the operating system, especially if they know when you will be running the program.
Diperlukan computer lain untuk pemeriksaan.
Pada parallel simulation, auditor harus membuat system simulasinyal
Audit secara parallel simulation sebetulnya seperti audit around the computer, karena yang diaudit data ,bukan sistemnya. Karena testnya dengan system simulasi , jadi data yang dicek .
Kelemahan ini dapat ditanggulangi dengan membatasi segmen  program , misalnya hanya bagian program  apikasi aktiva tetap yang menghitung penyusutan.
Metode data uji ITF memproses data uji dengan software sebenarnya, sedangkan simulasi parallel memproses data uji melalui software atau program-program audit. Output simulasi  dan output  sesungguhnya dibandingkan untuk tujuan pemerikasaan . jumlah pemrosesan yang dilakukan biasanya dibatasi pada area-area yang menjadi perhatian utama audit: misalnya, simulasi parallel atas program akuntansi biaya akan dibatasi pada fungsi-fungsi yang memutakhirkan record barang dalam proses. Fungsi-fungsi lain , seperti penjadwalan atau pelaporan kinerja, tidak akan termasuk dalam program simulasi karena tidak menjadi perhatian langsung dalam audit. Simulasi parallel pemrosesan atas seluruh data dengan program-program uji dan dilakukan secara terpisah pada computer auditor memungkinkan dilakukannya validasi seara komprehensif dan cocok jika data dirasakan perlu diaudit 100%. Program audit yang digunakan dalam simulasi parallel biasanya adalah program-program audit umum yang memproses data dan memproduksi keluaran yang identik dengan program yang akan diaudit. Data actual yang sama diproses oleh kedua program dan hasilnya dibandingkan. Pendekatan ini mahal dan sangat memakan waktu , tetapi tidak seperti pendekatan lainnya, ia menggunakan data real (nyata).


ON-LINE REAL- TIME ENVIRONMENT
A. Integrated Tes facilities ( ITF )
ITP digunakan untuk menuju system aplikasi dengan data tes pada saat computer  dioperasikan kegiata,rutin pada organisasi/perushaan yang diaudit.pada ITF pemeriksaa atau tes system komputerisasi dilaksanakan secara kontinyu dan simulasi antara pelaksanaan tes dan real processing.Pada ITF pemeriksaan tes system komputerisasi dilaksanakan secara kontnyu dan simultan antara pelaksaan dan tes dan real processing run. Dalam ITF auditor harus membuat dummy data dan diproses bersamaan dengan real data yang memang saat itu sedang diolah. Perlu system ITF ini sering dilakukan pada bidang aplikasi: order entry, purchasing, payroll, accounts receivable, dan sebagainya.
Pada system OLRT auditor ekstern atau internal auditor perlu mengatur agar dapat dilakukan monitoring secara kontinyu terhadap uji coba system tersebut. Metoda ini jauh lebih hemat jika dapat dilaksanakan sejak saat pengembangan aplikasi (during application or system development).
a) Keunggulannya
ITF hanya memerlukan sedikit keahlian teknis computer
Karena bersamaan proses regular, biaya relative rendah
Dapat dilakukan mendadak, sehingga dapat mencegah upaya curang
Auditor dapat memeriksa system aplikasi yang sebenarnya digunakan
Proses terhadap data tes (uji) dan data sesungguhnya dilakukan secara simultan .
Auditor menguji program logic in actual use dan mengamati prosedur error handling.
Test dilakukan langsung secara operasional bersama real processing run.
Karena dilakukan bersamaan maka tidak usah memberhentikan proses.
Dapat sekaligus merupakan simulasi yang tidak diketahui oleh operator.
Tidak diperlukan computer lain, atau computer-time  tersendiri. Kelemahannya
Auditor dan timnya harus sangat hati-hati, karena system dan data yang digunakan adalah live system & actual data.
Auditing ini dapat menyebabkan errors in client’s data, khususnya jik audit dilakukan juga galam proses penghitungan / penjumlahan.
Sulit untuk dilaksanakan pada aplikasi yang tidak siap untuk penggunaan separate subunits.
Kareana system ITF pada dasarnya masih juga menggunakan data test. Maka kelemahan-kelemahan yang ada pada metode test data tetap ditemuai pada system ITF.
Efektivitas ITF mungkin harus kompromi jika programmers  identify the fictitious entity.


Catatan :
ITF atau integrated Test dilaksanakan secara built-in menggunakan dummy-data (yang tentunya setelah selesai audit harus dihapus secara hati-hati).
Untuk pengujian file perusahaan auditor dapat menggunakan software dari auditor dengan program computer, auditor menguji output system dengan me-run programnya sendiri untuk melakukan verifikasi atas data klien yang ada pada media computer. Jenis pengujian yang dapat dilakukan auditor dengan program computer auditor antara lain :
Melakukan verifikasi atas ketepatan perhitungan.
Memeriksa kelengkapan, konsistensi dan kebenaran catatan.
Memperbandingkan data pada file terpisah.
Mengikhtisarkan atau mengurut kembali data dan melakukan analisis.
Membandingkan data yang diperoleh melalui prosedur audit lainnya dengan catatan perusahaan.
Memilih sampel audit computer deprogram untuk memilih sampel.
Mencetak permintaan konfirmasi.
ITF atau fasilitas-uji-terpadu menggunakana data uji dan juga fiktif, dalam master system computer. Teknik ini terpadi karena data uji diproses secara parallel dengan transaksi riil pada master-file sebenarnya yang memuat entitas-entitas riel dan fiktif. Oleh karena itu audit dilakukan seperti bagian dari siklus pemprosesan normal, untuk meyakinkan bahwa program-program yang akan dicek identik dengan program-program yang memproses data riil.


Data uji diidentifikasikan dengan kode-kode khusus yang harus terpisah dari keluaran system yang umum, baik dibuat secara manual atau dengan memodifikasi atau dengan merancang program-program aplikasi untuk menjalankan fungsi ini.
ITF biasa digunakan untuk system aplikasi computer audit berukuran besar yang menggunakan teknologi tepat waktu.
B. Proses Tracing Software
Computer fround yang sering terjadi adalah menambahkan pada computer program suatu perintah tambahan atau instruksi khusus untuk melaksanakan proses pada saat menemukan data denga criteria tertentu. Metoda ini memungkinkan suatu specific criteria men-trigger fraud yang mungkin tidak kita ketemukan dengan metoda uji data yang biasa. Fraund ini hanya bisa diketemukan jika kita memeriksa logika programnya secara detil. Process tracing software dapat menjadi suatu cara untuk identifikasi program modules froud yang tidak tertangkap dengan motoda audit dengan tes uji data. Tangging transactions ini juga dikenal dengan istilah “Snapshot approach”, merupakan salah satu alternative.
Dengan teknik snaphot ini computer klien deprogram untuk dimonitor kegiatan transaksinya.
Pada aplikasi yang melibatkan volume tinggi transanksi accounts, adalah lebih efektif jika menggunakan audit software modules pada existing client application programs.
Kelemahan audit modules ini ialah logic dari auditor terkait langsung ke program klien, dan karena itu bisa dimodifikasi oleh teknisi klien.teknik ini menggukanak modul terprogram yang disisipkan kedalam program aplikasi untuk memantau dan menghimpun data untuk tujuan audit. Pada saat transaksi memasuki computer, trasaksi ini diedit dan diproses dengan program aplikasi. Pada saat yang sama transaksi dicek  oleh modul audit yang terpasang di dalam program. Jika transaksi itu benar, maka transaksi itu dipilih oleh modul bersangkutan dan disalin pada log audit. Secara periodic, isi log itu dicetak untuk diteleti oleh auditor.
Keunggulan teknik audit ini
Data mengenai transaksi yang penting untuk diaudit mudah diperoleh
Memungkinkan semua pemrosesan dipantau walaupun tidak berkaitan langsung dengan transaksi individual
Dapat mendeteksi dan mencatat kemungkinan penyalahgunaan wewenang mengakses file induk.
 Kelemahan teknik ini adalah :
Memerlukan tambahan waktu untuk memproses transaksi
Perancangan dan implementasi modul biasanya mahal
Memerlukan pengamanan yang lebih ketat,
Auditor harus menetapkan criteria pemilih transaksi secara seksama.
Teknik modul audit terpasang memberikan manfaat:
Dalam pemberiatahuan real-time. Transaksi terpilih atau akses yang terdeteksi dipergunakan pada sebuah terminal auditor pada saat ditangkap oleh audit.
Dalam “pelabelan” modul audit “melabeli transaksi dengan petunjuk khusus, sehingga data mengenai pemrosesan yang bisa dikumpulkan.
Dalam “sanapshotiting” (di sebut juga record yang diperluas), modul audit menangkap isi bidang penyimpanan primer pada titik-titik terpilih dalam pemrosesan transaksi terpilih oleh program aplikasi bersangkutan. Snapshot membantu auditor menemukan kesalahan dalam logika program.
Dalam penelusuran, systems software menangkap jejak yang lengkap dari perintah yang dilaksanakan selama perosesan transaksi terpilih. Penelusuran juga membantu auditor menemukan kesalahan pemrograman

SNAPSHOT ILLUSTRATION

Pengertian dan tujuan audit system tangging & tracing tidak terlepas dari dua istilah yang dipakan disini, yaitu :
a. Tag atau label/kode yang ditambahkan terhadap real data yang akan dipakai uji-coba atau yang akan diamati
b. Trace adalah memantau “perjalanan data tersebut didalam keseluruhan proses pengolahan data dengan computer”.
Jadi metode tangging dan tracing ini dilaksanakan dengan menambahkan kode atau elemen data tertentu pada data yang ada, kemudian diamati, dianalisa dan ditentukan apakah mekanisme system komputerisasi sudah berjalan baik.
Karakteristik dan hal-hal yang perlu dilaksanakan dalam audit system tagging & tracing.
a. Diberikan “tag” atau “label” atau tambahkan elemen data tertentu terhadap transaksi data yang akan dipakai sebagai data yang akan dimonitor (trace) di dalam suatu system aplikasi computer.
b. Dibuat beberapa tambahan instruksi/program untuk dapat membaca data atau tambahkan elemen data tersebut.
c. Dibuat program untuk dapat mencetak pada sub-kegiatan tertentu, sehingga kita dapat memonitor “perjalanan”data tersebut.
C. Embedded Audit Modules
Teknik audit berbantuan computer dengan metoda embedded audit modules atau sering juga dlsebut dengan istilah audit hooks adalh teknik audit dengan menggunakan modul terprogram yang disisipkan atau “diletakkan “ ke dalam program aplikasi, dengan tujian untuk memantau dan mengimpun data untuk tujian pemeriksaan. Kata “embedded” memang telah menyiratkan adanya sesuatu yang dilekatkan : yaitu modul untuk audit yang dilekatkan pada program aplikasi klien. Pada saat transaksi memasuki computer, transaksi ini diedit dan diproses dengan program aplisasi. Pada saat yang sama transaksi dicek oleh modul audit yang terpasang di dalam program. Jika transaksi itu benar, maka transaksi itu dipilih oleh modul bersangkutan dan disalin pada log audit  (sering disebut SCARF/system control audit review file). Secara priodik, isi log itu dicetak untuk diteliti oleh auditor.
Keunggulan taknik audit ini:
a. Data mengenai transaksi yang penting untuk audit mudah diperoleh.
b. Memungkinkan semua pemrosesan dipantau walaupun tidak berkaitan langsung dengan transaksi individual,
c. Dapat mendeteksi dan mencatat kemungkinan penyalahgunaan wewenang mengakses file induk, untuk memasukkan data transaksi yang palsu, atau untuk membatalkan parameter pemosesan (misalnya, harga dalam program penagihan).
Kelemahan teknik ini adalah:
a. Memerlukan tambahan waktu untuk memproses transaksi, karena seua insturksi program dalam modul harus dilaksanakan untuk setiap transaksi,
b. Perancangan dan implementasi modul biasanya mahal, khususnya jika modul tersebut ditambahkan setelah program aplikasi sudah ada
c. Memerlukan pengamanan yang lebih ketat, karena modul audit dan log audit harus diamankan terhadap akses pegawai perusahaan,
d. Auditor harus menetapkan criteria pemilih transaksi secara seksama.
Teknik modul audit terpasang memberikan manfaat antara lain sebagai berikut:
Dalam pembertahuan real-time.
Dalam “pelabelan”modul audit” melabeli transaksi dengan petunjuk khusus.
Dalam “snapshotting” , modul audit menangkap isi bidang penyimpanan primer pada titik-titik terpilih dalam pemrosesan transaksi terpilih oleh program aplikasi persangkutan.
D. Mapping
Mapping adalah teknik audit berbantuan computer yang dilakukan dengan cara seolah-olah membuat pemetaan terhadap suatu program yang sedang dijalankan sehingga dapat diketahui bagian-bagian mana yang berfungsi sesuai dengan spesifikasinya dan bagian mana yang mungkin merupakan sisipan karena tidak sesuai dengan spesifikasinya, maupun bagian-bagian dari program yang ternyata tidak “bermanfaat”.
Keunggulan metoda ini ialah antara lain auditor atau evaluator terhadap suatu program dapat memberikan rekomendasi atau usul perbaikan, yaitu mengurangi bagian-bagian program yang ternyata tidak bermanfaat. Kelemahan dari metoda ini adalah biaya pengadaan software yang relative mahal dan perlu waktu pelatihan serta kemahiran tertentu untuk dapat memanfaatkannya.

E. Job Accounting Data Analysis
Pada instalasi computer induk (mainframe) lazimnya layanannya digunakan secara patungan (sharing) oleh berbagai unit dan berbagai system aplikasi yang diimplementasikan pada organisasi tersebut. Pada instalasi ini hanya terdapat satu central processing unit tetapi users atau pemakainya mungkin puluhan, bahkan bisa mencapai ratusan orang (terminal) pada saat yang bersamaan.
Dalam rangka analisis pembebanan biaya ataupun untuk kepentingan statistic perusahaan, pada umumnya jenis mesin tersebut juga dilengkapi dengan software yang bisa membantu manajemen untuk memperoleh data CPU utilization, computer-time per user,dan sebagainya.
Bagi auditor, tersedianya fasilitas itu sangat bermanfaat karena dapat dipakai sebagai bukti audit untuk pendukung evaluasi mengenai:
a) Sebagai metoda pendukung untuk mengevaluasi beberapa jenis pengendalian.
b) Untuk dapat mengevaluasi apakah telah terjadi akses dengan remote terminal, yaitu akses dengan menggunakan terminal jarak jauh oleh pihak-pihak yang tidak berhak.
c) Untuk mengevaluasi apakah pekerjaan-pekerjaan system aplikasi telah dioperasikan menggunakan sumber daya informasi yang benar.
F. Perangkat Lunak Audit
Perangkat lunak audit terdiri dari software (program-program computer) yang digunakan oleh auditor sebagai bagian atau dukungan teknis pengumpulan bahan bukti audit dalam prosedur auditnya. Sebelum menggunakan program untuk tujuan auditnya, auditor harus meyakini validasi program yang akan ia gunakan.
Komputer deprogram untuk dapat membaca, memilih, mengekstrak, dan memsostir datda dari file-file computer.
Perangkat lunak audit Umum- Generalized Audit Software (GAS)
Perangkat lunak audit umum (GAS) adalah perangkat lunak yang dirancang secara khusus untuk mendukung penggunaan teknologi informasi dalam auditing. GAS dirancang secara khusus agar memungkinkan auditor yang hanya memiliki keahlian computer sedikit, mampu menjalankan tugas-tugas seperti pemilihan data dari file, pengeckan koputasi, dan pencarian akun-akun yang tidak biasa dalam file, pemilihan secara statistic data uji petik dan penyiapan konfirmasi.
Pemakai pertama kali harus mendefinisikan tujuan dan rencana penggunaan perangkat lunak. Auditor harus membuat bagan arus tugas pemrosesan yang akan dicapai. Jika aplikasi telah direncanakan, langak selanjutnya  adalah membuat kode untuk pemrosesan.
Pembuatan kode harus dilakukan dalam tiga area umum. Area pertama adalah menspesifikasikan karakteristik-karakteristik data dari file yang akan diproses. Area berikutnya adalah menspesifikasikan langkah-langkah pemrosesan yang akan dilakukan. Area ketiga dan terakhir dalam pembuatan kode adalah menspesifikasikan isi dan format keluaran. Jika program telah dikodean, maka dilakukan entri, diverifikasi oleh auditor, dan disampaikan sesuai dengan file audit yang akan diproses.
Perangkat lunak audit dapat terdiri dari program paket (package program), program yang dibuat dengan tujuan khusus (purpose-written program), program yang dibuat dengan tujuan khusus (purpose-written program), dan program utilitas (utility programs)
Program paket (package programs)
Program paket adalah program computer yang dirancang untuk melaksanakan fungsi pengolahan data yang mencakup pembacaan file computer, pemilihan informasi, pelaksanaan perhitungan, pembuatan file data, dan pencetakan laporan dalam suatu format yang telah ditentukan oleh auditor.
Program Khusus (purpose-written programs)
Program yang dibuat dengan tujuan khusus adalah program computer yang dirancang untuk melaksanakan tugas audit dalam keadaan khusus.
Program Utilitas (utility programs)
Software system yang digunakan dalam mengumpulkan bukti disebut utility programs. Program utilitas adalah program yang digunakan oleh perusahaan untuk melaksanakan fungsi pengolahan umum.
Selain jenis-jenis tersebut sengat dikenal pula yang disebut generalized audit software (GAS) yang relative jarang digunakan oleh auditor. Alasan yang menyebabkan orang tidak menggunakan generalized audit software tetapi utility software adalah :
a) Sulit dan mahalnya GAS
b) Keterbatasan GAS,
Keunggulan GAS ini hanya dalam statiscal sampling dan pemeriksaan analitis, perhitungan efisiensi utility program lebih efisien dan membatu membuat audit tool yang baru.
G. Budget dan referensi
Pada dasarnya software audit yang digunakan dapat digolongkan menjadi 2 golongan :
Perangkat lunak audit terspesialisasi (SAS/specialized audit software)
Perangkat lunak audit tergeneralisasi (GAS/generalized audit software)
1. Perangkat lunak terspesialisasi
SAS merupakan satu atau lebih program khusus yang dirancang oleh auditor agar sesuai dengan situasi audit tertentu. Software audit ini jarang digunakan karena penyiapannya maka waktu dan mahal, dan diperlukan keahlian auditor dibidang computer.
2. Perangkat Lunak Audit Digeneralisasi
Perangkat lunak audit yang digeneralisasi terdiri dari seperangkat program computer yang secara bersama melaksanakan bermacam fungsi pemrosesan data atau manipulasi data. Program-program yang digenralisasi mempunya dua manfaat penting:
a) Program ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga memudahkan pelatihan bagi staf auditor dalam menggunakan program.
b) Dapat diterapkan pada lingkup tugas-tugas yang lebih besar tanpa harus mengeluarkan biaya atau mengalami kesulitan dalam mengembangkan program.
Kelemahan utama program computer yang digeneralisasi adalah biaya pengembangan pada awalnya besar, dan kecepatan pengolahan relative kurang efisien.
Dukungan atau bantuan GAS bagi auditor keuangan (system akuntansi) antara lain adalah:
1. Mengerjakan fungsi-fungsi pengumpulan bahan bukti, misalnya :
Akses file
Membuat atau melakukan re-organisasi file untuk keperluan audit
Seleksi data tertentu
Penyusunan data statistic
Pembuatan laporan
Perhitungan-perhitungan tertentu
2. Mengerjakan fungsi-fungsi bantuan audit, misalnya:
Meng-audit kwalitas data
Meng-audit kwalitas system, ataupun pengendalian intern
Meng-identifikasi data tertentu untuk kepentingan audit
Melakukan analisis data maupun sistem
Generalized Audit Software (GAS) khusus adalah software untuk bantuan audit, yaitu untuk pengunmpulan bahan bukti (system pengendalian intern ataupun data akuntansi) untuk entitas bisnis tertentu atau kegiatan/divisi tertentu, antara lain asuransi, bank. GAS adalah merupakan software package untuk tujuan audit. Software untuk membantu audit (khususnya operasional), yaitu untuk menilai kehandalan suatu system aplikasi. Contoh yang ada misalnya : Automator Quality Asurance (buatan NCC Inggris) dan Navigator (buatan E&Y Amerika).
Secara umum audit software digunakan untuk menyelesaikan 6 jenis audit tasks sebagai berikut:
1. Memilih dan mencetak audit samples
Contohnya ialah:
Saldo piutang tertentu dan sekaligus mencetak surat konfirmasi untuk kepada pelanggan.
Item-item tertentu persediaan (inventory items).
Fixed asset tertentu, tambahan/pembelian baru atau penghapusannya.
Voucher yang dibayarkan untuk review pengeluaran-pengeluaran.
Records tentang pemasok untuk cek utang-utang dagang.
2. Memeriksa records/data berdasarkan criteria tertentu yang diterapkan auditor:
Contoh:
Review saldo piutang yang melewati the credit limit.
Review persediaan (inventory) yang jumlah/nilainya negative (minus, tidak mungkin) atau saldonya tidak terlalu besar/masuk akal.
Review daftar gaji (Payroll) apakah pegawai yang sudah berhenti atau pindah kerja masih dibayar, atau uang lembur yang diragukan kebenarannya.
Review deposito atau rekening bank, khususnya transaksi penyetoran dan pengambilan yang nilainya relative besar (terlalu besar).
3. Perbandingan antara files
Contoh misalnya:
Pembandingan perubahan saldo piutang di antara dua tanggal berbeda dengan rincian sales dan cash receipts pada file transaksi.
Pembandingan daftar gaji (payroll) dengan file kepegawaian (personnel).
Pembandingan data persediaan (inventory) saat ini dan sebelumnya untuk mereview barang yang rusak (absolete) atau slow-moving items (barang-barang yang mutasinya sangat lambat, atau terlalu cepat)
4. Membandingkan data yang diperoleh dari prosedur audit yang lain dengan records system komputerisasi
Misalnya:
Membandingkan inventory test counts dengan perpetual records
Membandingkan creditor statements dengan file utang.
5. Resequencing atau summarizing data untuk dianalisis
Contoh:
Penjumlahan data transaksi tertentu.
Testing umur piutang (accounts receivable aging).
Penyusunan neraca lajur/neraca percobaan (general ledger trial balances).
Penjumlahan statisti inventory turnover untuk absolescence analysis.
Resequencing inventory items per lokasi untuk mendukung observasi fisik persediaan.
6. Tes kalkulasi dan perhitungan-perhitungan (penghitungan ulang)
Misalnya:
Recalculating persediaan (inventory items)
Recalculating penyusutan (deprecation amounts)
Recalculating kecermatan perhitungan diskon (sales discounts accuracy)
Recalculating bunga (interest)
Recalculating perhitungan gaji pegawai (employees’ pay compulations)
Serch and retrieve
Select samples
Perform basic calculating
Prepare subtotals
Compare, sort, and merge
Copy data
User exits
Summarize
Printing
Keuntungan-keuntungan pemakaian GAS
Auditor dapat menggunakan atau memperoleh software tersebut sebagai suatu package software, yang bias dibeli.
Dengan memakai paket GAS tersebut auditor dapat melakukan beberapa hal yang akan mempermudah proses audit yang dilaksanakannya.
Karena sifatnya merupakan paket, maka kehandalannya sudah relative baik, khususnya kalau hasil produk suatu software house yang benar.
Pada umumnya user-friendly
Dengan berbantuan computer, audit akan lebih efektif
Dapat memenuhi berbagai kebutuhan, berbagai perusahaan, klien dan berbagai segmen yang akan diaudit.

SYSTEM SOFTWARE BANTU AUDIT OPERATIONAL
Bagian dari software untuk membantu audit (khususnya operasional), yaitu untuk menilai kinerja pengelolaan suatu instalasi computer. Jenis/dibuat oleh perusahaan prosuden computer atau software house.
Tujuan & manfaatnya, dan contoh-contoh kegunaannya:
a) Bantuan untuk membuat program bantu audit itu sendiri
b) Untuk membantu mempermudah pemahaman system yang akan diaudit,
c) Untuk mengukur efisiensi pengelolaan computer
Tips Memilih Software Audit
1. Identifikasi kebutuhan anda
2. Featuresnya (fungsi apa yang bias dilakukan dengan software tersebut).
3. Perkembangan software, berapa kali versi baru
4. After sales services policy
Laporan Hasil Audit Sistem Informasi
Laporan hasil audit merupakan salah satu tahap penting dari seluruh kegiatan audit. Dalam setiap tahap audit akan selalu terdapat dampak psikologis bagi auditor maupun auditee. Dampak psikologis dalam tahapan persiapan audit dan pelaksanaan audit dapat ditanggulangi pada waktu berlangsungnya audit. Tetapi dampak psikologis dari laporan hasil audit, pananggulangannya akan lebih sulit karena: (a) Waktu audit sudah selesai, dan (b) Laporan merupakan salah satu bentuk komunikasi tertulis, formal, sehingga auditor tidak dapat mengetahui reaksi auditee secara langsung, serta (c) Laporan telah didistribusikan kepada berbagai pihak sehingga semakin banyak pihak yang terlibat.
Karena laporan hasil audit akan mempunyai dampak luas, maka diperlukan pengetahuan khusus tentang penyusunan laporan hasil audit. Pelaporan hasil audit merupakan tahap akhir kegiatan audit. Selain harus sesuai dengan norma pemeriksaan, penyusunan laporan hasil audit juga harus mempertimbangkan dampak psikologis, terutama yang bersifat dampak negative bagi auditee, pihak ketiga dan pihak lain yang menerima laporan tersebut.


PENGENALAN LAPORAN
Dari berbagai tahapan dalam pelaksanaan audit, tahap pelaporan hasil audit adalah merupakan salah satu tahapan kegiatan audit yang paling penting, tetapi juga yang krusial (bias mengakibatkan dampak relative besar). Masalahnya ialah bahwa laporan merupakan pendapat (opini) auditor yang tertulis (eksplisit, hitam di atas putih) yang bias memancing berbagai tanggapan. Oleh karena itu dalam membuat laporan hasil pemeriksaan, auditor harus benar-benar mempertimbangkan pendapat, harus didukung data, dan ditulis dengan baik serta bersifat konstruktif, serta objektif dalam rangka kedinasan (nothing personal). Karakteristik yang harus dipenuhi oleh suatu laporan hasil audit yang baik ialah:
a. Laporan hasil pemeriksaan hendaknya mempunyai makna penting, dan sungguh-sungguh diperlukan dan hasilnya bermanfaat bagi pimpinan perusahaan, auditee, maupun auditor itu sendiri.
b. Laporan hasil pemeriksaan disusun dan didistribusikan tepat waktu.
c. Ketepatan dan kucukupan bukti pendukung.
d. Temuan yang dicantumkan pada laporan hasil pemeriksaan hendaknya mempunyai sifat meyakinkan (merupakan temuan signifikan).
e. Laporan disajikan secara jelas dan sederhana, hindari penggunaan kata-kata atau istilah-istilah teknis yang mungkin tidak selalu dimengerti oleh pembaca, atau dengan singkatan-singkatan yang belum dikenal umum.
f. Laporan disajikan secara ringkas dengan bahasa yang lugas, tetapi lengkap.
g. Laporan hasil pemeriksaan harus menyajikan temuan dan rekomendasi atau usul solusi dengan nada yang konstruktif (bersifat pencerahan, jangan mendorong “permusuhan”).
Berikut ini adalah contoh dan panduan membuat laporan audit.
a. Penyajian Intisari Hasil Audit
Intisari hasil audit adalah untuk mengkomunikasikan informasi yang ada dalam laporan agar lebih efektif, menyediakan ringkasan yang berguna (a concierview on the audit) sehingga pembaca tidak perlu lagi menyusun catatan singkatnya dan memberikan motivasi kepada pembaca untuk menelaah laporan selanjutnya. Penyajian intisari hasil audit dilakukan dengan pertimbangan bahwa pembaca laporan audit adalah pejabat penting yang waktunya terbatas. Intisari Hasil Audit harus memuat hal-hal sebagai berikut:
Temuan dan kesimpulan
Saran dan rekomendasi
Pendangan para pejabat yang bertanggung jawab
b. Penyajian Uraian Hasil Audit
Uraian hasil audit disajikan pada bab tersendiri setelah bab intisari hasil audit. Uraian hasil audit biasanya terdiri dari bagain-bagian:
a. Informasi Umum
Informasi umum disajikan dengan tujuan untuk menyediakan informasi bagi pembacanya tentang program atau kegiatan yang diaudit dan sifat audit sehingga dapat digunakan untuk membantu pembaca agar dengan mudah dapat menanggapi informasi yang dimuat dalam laporan hasil audit.
Beberapa petunjuk dalam penyajian informasi umum adalah sebagai berikut:
o Harus dijaga agar relative singkat dan harus dihindarkan adanya informasi yang lebih sesuai disajikan pada bagian lain dari laporan.
o Apabila informasi umum menyajikan informasi yang bersangkutan dalam lampiran dan apabila demikian, maka petunjuk tentang lampiran tersebut agar disajikan.
o Informasi umum yang disajikan biasanya dibagi menjadi beberapa sub bagian, yaitu: Informasi mengenai sifat kegiatan audit, Informasi tentang kegiatan yang diaudit, Pernyataan-pernyataan pengimbang, Informasi mengenai sifat kegiatan audit.
o Informasi mengenai sifat audit diperlukan untuk mengkomunikasikan temuan-temuan secara jelas atau menempatkan dalam perspektif yang benar.
o Dalam penyajian informasi umum sebaiknya dilakukan sebagai berikut:
Gunakan kalimat-kalimat yang tidak terlalu panjang, jelas dan relevan dengan isi laporan.
Usahakan agar audit dilakukan sedalam mungkin, sehingga pembaca tidak menganggap audit yang dilakukan seadanya sehingga yang bersangkutan enggan membaca lebih lanjut.
Informasi tentang kegiatan atau program yang diaudit agar disajikan dengan benar, karena pembaca laporan atau pihak auditee lebih mengetahui hal tersebut.
c. Temuan Audit
Bagian ini memuat pesan pokok yang ingin disampaikan auditor ke pembaca laporan, dan merupakan alasan utama dibuatnya laporan tersebut. Dalam hal ini auditor tentu melakukan pemeriksaan dengan mengumpulkan bahan bukti audit (audit evidence collection) kemudian melakukan analisis/evaluasi terhadap bahan bukti audit (audit evidence evaluation).
Temuan audit kerap kali menyangkut hal-hal sebagai berikut
a. Temuan negative
Temuan negative adalah temuan berdasarkan bahan bukti audit bahwa ternyata terdapat:
o Ketidaktaatan terhadap ketentuan/peraturan.
o Pengeluaran uang yang tidak sepatutnya.
o Ketidakhematan.
o Ketidakefisienan.
o Ketidakefektifan.
b. Temuan positif
Temuan positif adalah temuan berdasarkan bahan bukti audit bahwa ternyata terdapat hal-hal yang bersifat positif dan perlu dikemukakan sebagai penghargaan atau apresiasi terhadap auditan (give credit to everyone who try to do his/her best, berikan pujian dan tonjolkan kelenihan-kelebihan untuk hal-hal yang pantas dikemukakan).
Format penyajian temuan dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Temuan (findings)
b. Resiko (risks)
c. Rekomendasi

CONTOH LAPORAN
Contoh laporan hasil audit terlampir.
Halaman Judul Luar
Halaman Judul Dalam
Surat Pengantar Dari Tim Auditor
Daftar Isi
Bab I Simpulan hasil penilaian
Bab II Uraian penilaian system informasi akuntansi
Bab III merupakan uraian rinci mengenai hasil penilain system informasi
1. Umum
a. Dasar Pemeriksaan (landasan hokum untuk melakukan penilaian)
b. Ruang lingkup Pemeriksaan
c. Tujuan Pemeriksaan
2. Tinjauan umum system
Penjelasan yang diuraikan dalam sub bab ini meliputi organisasi, system berbasis computer dan kebijaksanaan manajemen yang berkaitan dengan pengelolaan system informasi berbasis computer, fungsi auditor intern dalam system informasi berbasis computer dan pengembangan aplikasi, system dan pemrograman.
3. Hasil penilaian system
3.1. Pengendalian Umum
3.1.1. Audit Pengendalian Pucuk Pimpinan
a. Tujuan pengendalian dan audit pengendalian pucuk pimpinan
b. Instrument audit dan sumber datanya (lampirkan)
c. Temuan dan dampak/akibatnya
d. Penjelasan Pihak Yang Diaudit
e. Saran/Rekomendasi Tindak Lanjut
3.1.2. Audit Manajemen Pengembangan Aplikasi Dan seterusnya, tergantung ruang lingkup pengendalian umum yang diaudit.
3.2. Pengendalian Khusus (Aplikasi)
3.2.1. Audit Pengendalian Sub System Boundaries
3.2.2. Audit Pengendalian Input
a. Tujuan pengendalian dan audit pengendalian input
b. Instrumen Audit dan sumber datanya (lampirkan)
c. Temuan dan dampak/akibatnya
- Kondisi Yang Ada (Resiko & Pengendalian Ada)
- Standar/criteria (Resiko & Pengendalian Seharusnya Ada)
Preventif
Detektif
Korektif
- Dampak/akibatnya
d. Penjelasan Pihak Yang Diaudit
e. Saran/Rekomendasi dan konsekwensinya
f. Rencana Pemantauan Tindak lanjut
3.2.3. Audit Pengendalian Proses
a. Tujuan pengendalian dan audit pengendalian input
b. Instrument Audit dan sumber datanya (lampirkan)
c. Temuan dan dampka/akibatnya
- Kondisi Yang Ada (Resiko & Pengendalian yang Ada)
- Standar/kriteria (Resiko & Pengendalian Yang Seharusnya Ada)
Preventif
Detektif
Korektif
d. Penjelasan Pihak Yang Diaudit
e. Saran/Rekomendasi dan konsekwensinya
f. Rencana Pemantauan Tindak Lanjut
3.2.4. Audit Pengendalian Output
a. Tujuan pengendalian dan audit pengendalian input
b. Instrument Audit dan sumber datanya (lampirkan)
c. Temuan dan dampak/akibatnya
- Kondisi Yang Ada (Resiko & Pengendalian Yang Ada)
- Standar/criteria (Resiko & Pengendalian Yang Seharusnya Ada)
Preventif
Detektif
Korektif
- Dampak/akibatnya
d. Penjelasan Pihak Yang Diaudit
e. Saran/Rekomendasi dan konsekwensinya
f. Rencana Pemantauan Tindak Lanjut
3.2.5. Audit Pengendalian File/Database Aplikasi
a. Tujuan pengendalian dan audit pengendalian input
b. Instrument Audit dan sumber datanya (lampirkan)
c. Temuan dan dampak/akibatnya
- Kondisi Yang Ada (Resiko & Pengendalian yang Ada)
- Standar/criteria (Resiko & Pengendalian Yang Seharusnya Ada)
Preventif
Detektif
Korektif
- Dampak/akibatnya
g. Penjelasan Pihak Yang Diaudit
h. Saran/Rekomendasi dan konsekwensinya
- Rencana Pemantauan Tindak Lanjut


LAPORAN HASIL AUDIT
Contoh:
Audit Pengendalian Pucuk Pimpinan

a. Tujuan Pengendalian dan Audit Pengendalian Pucuk Pimpinan
Tujuan audit pengendalian pucuk pimpinan adalah untuk:
Memeriksa sejauh mana pucuk pimpinan membrikan perhatian (organzing, planning, coordinating, directing) terhadap unit fungsional system informasi di perusahaan tersebut.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
b. Resiko & Pengendalian yang Ada
Resiko bila pengendalian pucuk pimpinan kurang memadai adalah:
Tidak efektif/efisien/ekonomisnya sumberdaya informasi
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
c. Pengendalian yang Seharusnya Ada
Pengendalian pucuk pimpinan yang seharusnya ada adalah:
Adanya IT Plan yang jelas
Organisasi Komputer yang terkoordinir
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
d. Instrumen Audit dan Sumber Datanya (Lampirkan)
Dalam pengumpulan bahan bukti audit, instrument pemeriksaaan yang dignakan adalah:
Studi dokumentasi (Surat Keputusan Direksi, risalah rapat, pedoman kerja, deboya)
Wawancara dengan Direktur Utama dan Kepala Bagian EDP.
e. Temuan dan Dampak/akibatnya
Contoh KASUS Kondisi yang ada saat ini adalah sebagai berikut:
Divisi Produksi memiliki computer main-frame IBM 3090 dan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional. System-sistem aplikasi yang sudah dioperasikan antara lain ialah: aplikasi pengelolaan gudang system informasi manajemen persediaan (materials management), jadwal produksi, dan komputerisasi yang berkaitan dengan tenaga kerja. Kegiatan system berbasis computer lainnya ialah engineering design. Computer pada divisi ini juga digunakan untuk pengolahan data penjualan, misalnya pengolahan data sales order untuk pelaporan penjualan, pengolahan data riset pemasaran (market research, costumer satisfaction research, research competitor data), pengolahan data profil pelanggan, pengolahan data sekunder dari berbagai sumber dan instansi (lembaga) public (misalnya Biro Pusat Statistik, Departemen Perdagangan, dan kantor Pemerintah Daerah), serta monitor salesman oleh Divisi Penjualan. Data tersebut diolah secara centralized batch processing systems. Dalam konfigurasi system IBM 3090 tersebut data disimpan pada sotarge berupa disk magnetis ayng merupakan media penyimpanan data online ke central processing unit computer induk tersebut. Computer tersebut juga masih digunakan magnetic tape drive, serta dilengkapi dengan uniteruptable power supply (UPS).
Di pihak lain, untuk kepentingan pengelohan data administrative dan akuntansi keuangan Divisi Keuangan & Akuntansi juga memiliki computer midrange IBM AS/400. Komputer digunakan untuk pengolahan data akuntansi, khususnya untuk paloran akuntansi keuangan dan laporan manajemen. Pada saat yang sama, system akuntansi secara manual masih tetap dijalankan dengan jurnal dan pembukuan pada buku besar/buku pembantu untuk menghasilkan neraca, laporan laba rugi, dan laporan keungan lainnya. Komputerisasi untuk menghasilkan laporan keuangan (financial reports) dan penggajian masih dilaksanakan secara bacth processing system. System aplikasi yang digunakan adalah system komputerisasi yang didesain secara outsourcing dan dioperasikan oleh petugas-petugas di bidang akuntansi dengan pelatihan-pelatihan sebagai operator (user training).
Dengan perkembangan peralatan computer dan tersedianya berbagai accounting package software, maka secara bertahap perusahaan berusaha mengimplementasikan paket software tersebut dan mencoba menghilangkan redundancy pengolahan computer dan pembukuan manual. Oleh karena divisi ini tidak memiliki information system staff, bila diperlukan untuk keperluan-keperluan tertentu mereka minta bantuan tenaga teknis dari bagian EDP. Dengan berkembangnya komputernya mikro maka perusahaan juga mulai menerapkan micro-based systems, melakukan office automation systems, end user computing, maupun mengembangkan aplikasi-aplikasi sederhana berbasis system operasi Microsoft Windows.
Kepala Bagian EDP telah menyampaikan beberapa usulan, misalnya antara lain:
Surat usulan standardisasi computer dan prosedur kerja.
Surat usulan tentang standar kualikasi dan pelatihan programmer.
Surat usulan standardisasi dokumentasi pengenbang system.

Tetapi pimpinan perusahaan belum memberikan perhatian, karena mereka cenderung melihat komputerisasi sebagai sesuatu hal bersifat teknis dan alat belaka, belum dipandang sebagai bagian yang strategis bagi organisasi. Organisasi unit computer juga belum terpadu dan dilakukan secara parsial (tidak integrated).
Dan seterusnya, Saudara boleh berimprovisasi atau berasumsi.
1. Penjelasan Pihak yang Diaudit
Misalnya bila ada temuan masalah, tetapi pihak yang bersangkutan mencoba memberikan tanggapan atau penjelasan mengapa demikian.
2. Saran/Rekomendasi dan Konsekwensinya
Usul atau saran perbaikan dari saudara dan apa konsekwensinya
3. Rencana Pemantauan Tindak Lanjut
- Jelaskan rencana Saudara untuk memantau apakah saran/rekomendasi
- Anda ditindaklanjuti apakah tidak, dan kapan jadwal yang diharapkan.

Audit Sistem Informasi dan Prosedur

Bagian III
Audit Sistem Informasi dan Prosedur

Istilah EDP-Audit (electronic data processing audit), atau computer audit, kini lebih sering disebut dengan audit sistem informasi (information systems audit). Pada awalnya EDP audit dilakukan hanya dalam rangka audit laporan keuangan. Dalam perkembangannya kemudian, karena pentingnya dan makin besarnya investasi dalam TI. Organisasi perusahaan makin merasakan perlunya audit operasional terhadap fungsi TI-nya. Maka secara umum audit sistem informasi dimaksudkan untuk mengavaluasi tingkat kesesuaian antara sistem informasi dengan prosedur bisnis (bisnis processes) perusahaan (atau kebutuhan pengguna, user needs), untuk mengetahui apakah suatu sistem informasi telah didesain dan diimpilmentasikan secara efektif, efisien, dan ekonomis, memiliki mekanisme pengamanan aset, serta menjamin integritas data yang memadai.
Audit SI berbasis teknologi informasi dapat digolongkan dalam tipe atau jenis-jenis pemeriksaan:
a) Audit laporan keuangan (general audit on financial)
Dalam hal ini audit terhadap aspek-aspek teknologi informasi pada suatu sistem informasi. akuntansi berbasis teknologi informasi adalah dilaksanakan dalam rangka audit keuangan.
b) Audit sistem informasi (SI) sebagai kegiatan tersendiri, terpisah dari pada keuangan. Sebetulnya audit SI pada hakekatnya salah satu dari bentuk audit operasional, tetapi kini lebih dikenal sebagai satu satuan jenis audit tersendiri yang tujuan utamanya lebih untuk meningkatkan IT governance.

Makin Perlunya Audit TI
Audit TI sangat diperlukan karena akuntan yang melakukan audit laporan keuangan harus memahami dan menguji sistem dan pengendalian internnya, dan dalam rangka memeriksa data akuntansi (substantine test). Selain alasan tersebut, audit TI makin diperlukan sehubungan dengan resiko yang semakin tinggi di bidang sistem berbasis teknologi informasi, yaitu antara lain:
Resiko penggunaan teknologi secara tidak layak (tidak tepat)
Kesalahan berantai atau pengulangan kesalahan secara cepat konsistem pada sistem berbasis komputer
Logika pengolahan  salah (dapat menyebabkan kesalahan-kesalahan serius).
Ketidakmampuan menterjemahkan kebutuhan (sistem tidak sesuai).
Konsentrasi tanggungjawab, antara lain konsentrasi data pada satu lokasi atau orang-orang TI (khususnya database administrator).
Kerusakan sistem komunikasi yang dapat berakibat pada proses atau data.
Data input atau informasi bisa saja tidak akurat, kurang mutakhir, palsu.
Ketidakmampuan mengendalikan teknologi.
Praktek pengamanan sistem informasi yang tidak efektif, kurang memadai atau bahkan mungkin tidak direncanakan dengan baik.
Penyalahgunaan atau kesalahan pengoperasian atau penggunaan data.
Akses sistem yang tidak terkendali.

Audit Laporan Keuangan
Audit laporan keuangan (general audit on financial statement audit) ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kewajaran laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan (sesuai dengan standar akuntansi keuangan dan tidak ada salah saji materialistis). Audit ini termasuk general audit. Apabila sistem akuntansi perusahaan merupakan sistem berbasis komputer/teknologi informasi, maka perlu dilakukan audit terhadap sistem aplikasi (komputerisasi) akuntansi tersebut atau komponen teknologi informasi (hardware, software, netware, infrastructures, dan bahkan dataware atau data yang ada di database dari sistem informasi akuntansi tersebut. Pemeriksaan TI khususnya untuk memahami/menguji struktur pengendalian intern klien (sebagaimana diwajibkan dalam standar pemeriksaan akuntan publik) dan dalam rangka pengujian substantif (atas transaksi serta terhadap saldo akun).
Pemeriksaan/audit laporan keuangan terdiri dari dua tahap, yaitu (a) audit pengendalian (test of controls), yaitu memriksa apakah proses dan program komputer sudah betul, memerikasa apakah pengendalian sistem memadai, dan apakah pengendalian aplikasi sudah cukup baik. Sedangkan pemeriksaan tahap berikutnya (b) adalah audit terhadap data substantif untuk mengakses data akuntansi yang ada di dalam file/media komputer, misalnya yaitu penjualan, nilai piutang, dan sebagainya.

Audit Arround the Computer
Dalam pendekatan audit di sekitar komputer, auditor (dalam hal ini harus akuntan yang registered, dan bersertifikasi akuntan publik) dapat mengambil kesimpulan dan merumuskan opini dengan hanya menelaah struktur pengendalian dan melaksanakan pengujian transaksi dan prosedur verifikasi saldo perkiraan dengan cara sama seperti pada sistem akuntansi manual.
Kunci pendekatan audit ini ialah pada penelusuran transaksi terpilih mulai dari dokumen sumber sampai ke bagan-perkiraan (akun) dan laporannya. Keunggulan metode audit di sekitar komputer adalah:
Pelaksanaan audit lebih sederhana.
Auditor yang memiliki pengetahuan minimal di bidang komputer dapat dilatih dengan mudah untuk melaksanakan audit.
Kelemahannya adalah jika kondisi (user requirements) berubah, mungkin sistem itupun perlu diredesain dan perlu penyesuaian (update) program-program, bahkan mungkin struktur data/file, sehingga auditor perlu menilai/menelaah ulang apakah sistem masih berjalan dengan baik.

Audit Through the Computer
Dalam pendekatan audit ke sistem komputer (audit through the computer) auditor melakukan pemeriksaan langsung terhadap program-program dan file-file komputer pada audit SI berbasis TI. Auditor menggunakan komputer (software) atau dengan cek logika atau listing program (desk test on logic or programs source code) untuk menguji logika program dalam rangka prngujian pengendalianyang ada pada komputer. Selain itu auditor juga dapat meminta penjelasan dari para teknisi komputer mengenai spefikasi sistem dan/atau program yang diaudit.
Keunggulan pendekatan audit dengan pemeriksaan sistem komputerisasi, ialah:
(a) Auditor memperoleh kemampuan yang besar dan efektif dalam melakukan pengujian terhadap sistem komputer.
(b) Auditor akan merasa lebih yakin terhadap kebenaran hasil kerjanya.
(c) Auditor dapat menilai kemampuan sistem komputer tersebut untuk menghadapi perubahan lingkungan.
Sebetulnya mungkin tidak dapat dikatakan sebagai suatu kelemahan dalam pendekatan audit ini, namun jelas bahwa audit through the computer memerlukan tenaga ahli auditor yang terampil dalam pengetahuan teknologi informasi dan mungkin perlu biaya yang besar pula.

Audit with the Computer
Audit dengan komputer untuk kegiatan pendukung dan administrasi paling sering digunakan, bahkan meskipun sistem klien yang diaudit telah berbasis komputer. Selain untuk kegiatan administratif, penyusunan program audit dan kuesioner serta pencatatan-pencatatan dan pelaporan hasil audit, komputer biasanya juga digunakan oleh auditor atau pegawai perusahaan klien untuk melakukan analisis atau pengikgtisaran, pembuatan grafik dan tabel-tabel tentang hasil audit, serta pemaparan atau presentasi hasil audit (misalnya dengan Microsoft Word, PowerPoint, dan Excel).

Prosedur Audit Keuangan (TI)
a) Perencanaan audit (Audit Planning)
Langkah pertama dalam perencanaa audit adalah untuk menetapkan ruang lingkup dan tujuan pemeriksaan. Pada audit laoran keuangan, pemeriksaan dilakukan oleh editor (akuntan) ekstern dan independen terhadap laporan keuangan perusahaan, ditujukan kepada para pemegang saham pihak lain terkait. Tujuan audit untuk menilai kelayakan atau kewajaran (fairness) laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan.
b) Pemahaman sistem dan struktur pengendalian internnya
Pada tahap ini yang dilakukan adalah pemahaman terhadap sasaran yang akan ddiaudit, pengumpulan informasi awal, dan identifikasi resiko, antara lain:
Pemahaman sistem informasi untuk pelaksanaan transaksi
Penentuan kemungkinan salah saji dalam tiap tahap pelaksanaan transaksi
Penentuan aktivitas pengendalaian untuk deteksi salah saji
Penentuan prosedur audit untuk deteksi efektivitas aktiviasi pengendalian
Penyusunan program audit pengendalian
c) Pengumpulan bukti audit
Bukti audit dikumpulkan dengan sejumlah instrumen audit, pengujian, dan prosedur yang bermacam-macam
d) Evaluasi bukti pemeriksaan
Setelah bukti-bukti audit dikumpulkan, auditor mengevaluasi bukti audit tersebut sesuai dengan tujuan dari audit dan kemudian:
Dilakukan tests of controls yang bertujuan untuk mengetahui apakah pengendalian yang ada telah dilakukan dengan prosedur yang telah ditetapkan.
Dilakukan substantive test, yang terdiri dari:
a. Tests of transactions yang bertujuan untuk mengevaluasi apakah terdapat kekeliruan atau kesalahan
b. Tests of balances or overall results yang bertujuan untuk menjamin laporan keuangan yang dihasilkan adalah benar dan akurat
e) Komunikasi hasil pemeriksaan
Segera setelah pekerjaan pemeriksaan diselesaikan dan diperoleh kesimpulan pendapat auditor, perlu disiapkan laporan hasil audit mengenai temuan-temuan dan rekomendasi-rekomendasinya. Dalam penyelesaian audit (completion of the audit) dibuat kesimpulan dan rekomendasi untuk dikomunikasikan pada manajemen.

Tujuan Audit SI
a) Pengamanan aset
Aset informasi suatu perusahaan seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), sumber daya manusia, dan data harus dijaga dengan sistem pengendalian intern yang baik agar tidak ada penyalahgunaan aset perusahaan.
b) Efektifitas sistem
Efektifitas sistem informasi perusahaan memiliki peranan penting dalam proses pengmbilan keputusan. Suatu sistem informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi tersebut sudah dirancang dengan benar (doing the right thing), telah sesuai dengan kebutuhan user. Informasi yang dibutuhkan oleh para manajer dapat dipenuhi dengan baik.
c) Efisiensi sistem
Efisiensi menjadi sangat penting ketika sumber daya kapasitasnya terbatas. Jika cara kerja dari sistem aplikasi komputer menurun maka pihak manajemen harus mengevaluasi apakah efisiensi sistem masih memadai atau harus menambah sumber daya, karena suatu sistem dapat dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memnuhi kebutuhan user dengan sumber daya informasi yang minimal. Cara kerja sistem benar (doing thing right).
d) Ketersediaan (Availability)
Berhubungan dengan ketersediaan dukungan/layanan teknologi informasi (TI). TI hendaknya dapat mendukung secara kontinyu terhadap proses bisnis kegiatan perusahaan. Makin sering terjadi gangguan (system down) maka berarti tingkat ketersediaan sistem rendah.
e) Kerahasiaaan (Confidentiality)
Fokusnya ialah pada proteksi terhadap informasi dan supaya terlindungi dari akses dari pihak yang idak berwenang.
f) Kehandalan (Realibility)
Berhubungan dengan kesesuaian dan kekuratan bagi manajemen dalam pengolahan organisasi, pelaporan dan pertanggungjawaban.
g) Menjaga integritas data
Integritas data (data integrity) adalah salah satu konsep dasar sistem informasi. Data memiliki atribut-atribut seperti kelengkapan kebenaran dan keakuratan.

Perlunya kontrol dan audit
Faktor-faktor yang mendorong pentingnya kontrol dan audit SI adalah antara lain untuk:
a) Mendeteksi agar komputer tidak dikelola secara kurang terarah
b) Mendeteksi resiko pengambilan keputusan yang salah akibat informasi hasil proses sistem komputerisasi salah/lambat/tidak lengkap
c) Menjaga aset perusahaan karena nilai hardware, software dan dan personil lazimnya tinggi
d) Mendeteksi resiko error komputer
e) Mendeteksi resiko penyalahgunaan komputer (fraud)
f) Menjaga kerahasiaan
g) Meningkatkan pengendalian evolusi penggunaan komputer

Tahapan Audit
a) Subjek Audit
Tentukan/identifkasi unit/lokasi yang diaudit
b) Sasaran audit
Tentukan sistem secra spesifik, fungsi atau unit orgainisasi yang akan diperiksa
c) Jangkauan audit
Identifikasi sistem secara spesifik, fungsi atau unit organisasi untuk dimasukkan lingkup pemeriksaan.
d) Rencana pre-audit
1. Identifikasi kebutuhan keahlian teknik dan sumber daya yang diperlukan untuk audit
2. Identifikasi sumber bukti untuk tes atau review seperti fungsi flowchart, kebijakan, standard prosedur dan kertas kerja audit sebelumnya.
e) Prosedur audit dan langka-langkah pengumpulann bukti audit
1. Identifikasi dan pilih pendekatan audit untuk memeriksa dan menguji pengendalian intern
2. Identifikasi daftar individu untuk interview
3. Identifikasi dan menghasilkan kebijakan yang berhubungan dengan bagian, standar dan pedoman untuk interview
4. Mengembangakn instrumen audit dan metodologi pengujian dan pemeriksaan kontrol internal
f) Prosedur untuk evaluasi
1. Organisasikan sesuai kondisi dan situasi
2. Identifikasi prosedur evaluasi atas tes efektifitas dan efisiensi sistem, evaluasi kekuatan dari dokumen, kebijakan dan prosedur yang diaudit
g) Laporan hasil audit
Siapkan laporan yang objektif, konsteuktif (bersifat membangun) dan menampung penjelasan audit.

Pendekatan Audit Berbasis Resiko
a) Mengumpulkan rencana dan informasi
Pemahaman proses bisnis, pengendalian resiko, hasil audit tahun sebelumnya, penaksiran resiko bawaan, dan informasi terkhir
b) Mendapatkan pengertian internal control
Pahami lingkungan pengendalian, penakisran resiko, kontrol internal yang sudah ada, penaksiran resiko deteksi
c) Melakukan tes ketaatan
Pengujian pelaksanaan kebijakan dan prosedur, pemisahan tugas dan fungsi, dan sebagainya
d) Melakukan test substantif
Prosedur analitis, kebijakan audit substantif lainnya, pengujian atas keandalan dan keseimbangan laporan unit operasional (departemen)
e) Menyelesaikan audit
Menyusun temuan/rekomendasi, menyampaikan laporan hasil audit.

Teknik Penaksiran Resiko
Ada beberapa metode untuk melakukan penilaian resiko, yaitu:
a) Pendekatan penaksiran dengan sistem scoring sistem
Pendekatan ini digunakan dengan mengutamakan audit berdasarkan pada evaluasi faktor-faktor resiko
b) Penilaian resiko secara judgetmental
Yaitu keputusan dibuat berdasarkan pengetahuan bisnis, instruksi manajemen eksekutif, sejarah kehilangan, tujuan bisnis dan faktor-faktor lingkungan.
c) Teknik kombinasi.


BAGIAN III
KONSEP SISTEM INFORMASI DAN AUDIT
9
SIKLUS PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

Salah satu kunci IT Gevermence dalam pandangan kontrol internal adalah perlunya kebijakan formal dari tiap manegement mengenai metologi perkembangan sistem (System Development metodology). Pucuk pimpinan perusahaan harus menetapkan metologi system development life cycle seal yang dianut.

Siklus Hidup Sistem
Siklus daur hidup sistem (system life cycle) adalah proses evolusioner yang terjadi dalam penerapan sistem atau sub sistem informasi berbasis komputer. Mulai dari perencanaan kebutuhan sistem sampai dioperasokan untuk kegiatan organisasi. Proses tersebut terdiri dari kegiatan perencanaan, analisis, rancangan (Design / construction), penerapan (System Implementation), dan penggunaan sistem atau sering disebut dengan istilah production (operasionalisasi sistem) sebagai suatu sistem yang life digunakan sesuai kebutuhan pengguna dari pada tahap penggunaan tersebut seluruh operasi sistem dilakukan oleh pengguna.
Sistem informasi dibangun menurut kaidah dan metoda – metoda tertentu yang disebut metodologi (System Depelopment Methodology). Menurut berbagai sumber lain, terdapat metodologi yang dapat diikuti.
Sistem development life cycle (SDLC) adalah seluruh proses mengembangkan produknya membangun sistem informasi melalui berbagai langkah, mulai dari penelitian kebutuhan (requitment), analisis, desain, implementasi dan pemeliharaan (maintenance).

Tahap
Keterangan
Fensibility study
Menentukan layak/tidaknya, cost-beneft satu proses sistem.
Information Analysis
Menggali user requirements.
System Design
Merancang user interface, sistem file, dan information processing functions yang akan dilakukan, dan sebagainya.
Program development
Memdesain, coding, compiling, testing, dan decomenting programs.
Procedures and forms devenlopment
Mendesain system procedures dan form – form yang akan digunakan.
Acceplance testing
Final text / formal approval / accerptanes dari out
Conversion
Implementasi, mengganti sistem lama dengan sistem baru.
Operation and maintenance
On-gving production, eperasionalisasi sistem, perawatan dan perbaikan, evaluasi atau usul sistem yang lebih baru lagi di kemudian hari.

Tabel 9.1 Tahap – tahap Perkembangan System
Secara lebih rinci kegiatan – kegiatan dalam berbagai tahap pengembangan sistem aplikasi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. The Planning Phase
Kegiatan – kegiatan yang dilakukan pada tahap ini antara lain adalah :
Mengenali masalah yang dihadapi (recognize the prolem)
Merumuskan problem yang sesungguhnya (define the problem)
Menetapkan tujuan / sasaran (Set system objectives)
Identifikasi kendala / keterbatasan (Identify system constraint)
Melakukan studi kelayakan (conduct a  feasibility study); mengamati faktur – faktur yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan, mencakup kelayakan.
Menyiapkan proposal (Prepare a system study proposal)
Disetujui / tidaknya usulan (approce or disapprove the study project)
Membangun mekanisme kontrol (establish a control mechinisme)
2. The analysis Phase
Dalam tahap system analysis dilakukan studi tentang sistem yang berjalan saat ini (existing / eurrent system) dalam rangka menilai ada / tidaknya kelemahan.
Membentuk tim
Merumuskan tujuan atau kebutuhan informasi
Merumuskan system performance cycle
Menyiapkan design proposal.
3. The implementasi phase
Pada tahap implementasi dilakukan acquisition dan integrasi sumber daya fisik dan no fisik agar sistem dapat dioperasikan.
Perencanaan implementasi dan mengumumkannya
Perolehan sumber daya hardware dan software
Menyiapkan fasilitas fisik
Pelatihan users
Menyiapkan the cutever proposal dan cutover the new system
4. The use phase
Antara lain kegiatan – kegiatan sebagai berikut :
Penggunaan sistem (use the system)
Evaluasi atau pemeriksaan (Audit the system)
5. Maintain the system
Melakukan perbaikan, memutakhirkan dan menyempurkan use (to keep system current /  to improses the system)
Menyiapkan usulan renginsering bila diperlukan.
Jenis Tes
Keterangan
Program testing
Oleh programmer, terhadap tiap program untuk menguji  accuracy, completeness dan efficiency.
System testing
Oleh sistem analis dan programmer, untuk menguji overall system apakah interfaces antar program / subsistem sudah baik.
User testing
Oleh sistem analis programmer, user dan operator, untuk menguji apakah sistem sudah berjalan baik di lapangan.
Quality assurance testing
Pengujian oleh QA, apakah secara terkini sistem sudah baik, dan apakah sesuai dengan aturan / kaidah / standar.

Tabel 9.2. Testing Domain

Metodologi Sdlc
Istilah metodologi pengembangan (atau pembanguna) sistem aplikasi adalah semata-mata merupakan sebutan yang diintroduksi oleh lingkungan kelompok ahli yang menelurkan ide – ide tentang prosedur pembangunan lain.
Testng, adalah sangat sulit untuk kembali melakukan perubahan karena ada suatu yang belum dipikirkan sebelumnya (atau situasi berubah).

Soft-System Methodology
Pendekatan soft-systems methodology (SSM) meliputi dua tahapan, yaitu :
Kenali situasi/kondisi, identifikasikan problem. Ada tiga hal yang harus diingat dan dilakukan, yaitu :
Problem solver, yang menggunakan SSM untuk struktur diskusi, debat dan negoisasi tentang problem tersebut.
Problem owner
Decision taker, orang yang memiliki kemampuan untuk merubah situasi.
Uraikan situasi, problem situation, dan problem solver menggunakan SSM untuk membantu staheholder (Problem solver, problem owner, decision taker) untuk mengeri benar aturan, norma dan nilai yang mendasar problem tersebut.

Sociotechnical Design Approach
Pendekatan sociotechnical design mulai dikembangkan pada pertengahan akhir tahun 1970an yang didasarkan pada masalah behavioral (keperilakuan pendekatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengoptimalkan gabungan dua aspek, yaitu :
Technical system, yang bertujuan untuk memaksimalkan penyelesaian tugas.
Social system, bertujuan memaksimalkan kualitas working life system user.

Politycal Approach
Pada awal tahun 1980an diperkenalkan pendekatan politis (politycal approach) dalam pengembangan sistem informasi. Munculnya ide ini didasarkan pada pemikiran bahwa keterlibatan user merupakan strategi pengembangan sistem aplikasi yang tepat.

Prototyping Approach
Pendekatan prototyping menggunakan metode langsung dalam pengembangan sistem aplikasi.
Pada umumnya prototyping termasuk pendekatan yang fleksibel dan relatif banyak diikitu karena keunggulan – keunggulan, meskipun ada juga kelemahannya.
Keunggulan prototyping ialah memungkinkan interaksi secara interns (Aktif) dan calon user dapat ikut berpartisipasi, membayangkan, atau mengharapkan sistem apalikasi yang akan dikembangkan. Sedangkan kelemahannya adalah seringkali prototype berjalan di lapangan dan mengalami perubahan – perubahan dari konsep desain awal yang lebih terintegrasi.
Kondisi atau bidang yang cocok menggunakan metoda prototyping misalnya :
Bidang yang tipe pekerjaannya high risk
Dalam pembangunannya harus banyak interaksi dengan calon pengguna sistem aplikasi tersebut.
Sistem perlu segera dioperasionalkan
Ekspektasi umur sistem tidak terlalu panjang
Sistem yang kondisi dan lingkungannya baru
Para calon pengguna sistem belum dapat diukur ciri – ciri karakteristiknya.

Contigency Approach
Menurut para pendukung gagasan model pengembangan sistem ini. Hal – hal berikut ini yang mempengaruhi efektifitas pendekatan ini, yaitu :
Social system impact, jika sistem memiliki dampak besar terhadap pekerjaan, sktruktur organisasi atau distribusi kekuatan organisasi, maka desainer harus melakukan pendekatan dan memperhatikan issue behavioral yang timbul.
Task sistem impact, jika sistem mempengaruhi kinerja karyawan dan keseluruhan efektifitas dan efesiensi organisasi maka bagian HRD harus ikut bertanggungjawab terhadap pengembangan sistem ini.
System size, skala sistem yang akan dikembangkan harus disebarluaskan apa yang menjadi dampak sosial dan sistem pada organisasi.

Peranan Auditor
Dari sudut – pandang audit, pengembangan dan dokumentasi siste adalah sangat penting sekali untuk mendapatkan perhatian, perlunya mekanisme kontrol dan audit diharapkan dapat menjaga compliance terhadap procedur. Olh karena itu perusahaan perlu menetapkan standard metodology dan dokumentasi dan mendorong agar sistem aplikasi dibangun dengan ketaatan prosedur sejak mula dari langkah yang paling awal.

Pemeliharaan  / Modifikasi Sistem
Sistem yang sudah operasional seringkali penting untuk disempurnakan di-update, di-generate laporan – laporan tambahan, atau perubahan – perubahan minor. Salah satu alasan untuk melakukan perubahan adalah karena tidaklah mungkin untuk mengatasi seluruh kontinjensi selama tahap perancangan. Selain itu, kondisi lingkungan bisnis membutuhkan perubahan.
Aspek – aspe atau tahap yang mana saja yang diperlu dievaluasi dari satu kegiatan pengembangan sistem aplikasi? Ada beberapa hal yang harus dievaluasi yaitu. (a) Problem opportunity definition, (b) management of the change procces, (c) entry the feasibility assessment, (d) Analysis of the existing system, (e) formulation of strategic requirements, (f) Organizational and job design, (g) Information processing system design, (h) application software acquisition and development, (i) hardware/system software acquisition, (j) procedures development, (k) acceplence testing, (l) conversion, (m) operation and maintenance.

Audit Sistem Aplikasi
Type audit yang digunakan auditor pada proses pengembangan sistem ialah :
Concurrent audit, auditor sebagai bagian dari team pengembangan sistem, auditor terlihat sebagai team untuk meningkatkan kualitas sistem yang sedang dikembangkan.
Postimplementation audit, auditor membantu organisasi untuk mempelajari aplikasi sistem yang sedang dijalankan, auditor dapat melakukan evaluasi apakah sistem yang ada perlu dibuang, dilanjutkan atau dimodifikasi.
General review of information sistems auditor, auditor melakukan evaluasi tehadap pengembangan sistem secara keseluruhan, auditor menentukan apakah mereka dapat perlunya mengurangi pengecekan data.

Prosedur Audit Rinci
Instrumen Pengumpulan Bukti Audit
Bukti audit diperoleh dari pihak – pihak terkait, dikumpulkan dengan sebagai cara, antara lain : kuesioner, pengamatan atau obsevasi (pengamatan dilakukan ditekankan pada TI, yang mencakup system application, data center dan infratructur), wawancara, review dokumentasi, pemeriksaan fisik, analytical review procedure, tes/pengujian, penjelasan pihak ketiga/ahli dan sebagainya.


Bab III
Audit sistem akuntansi
10
Pengumpulan dan
Penilaian Bukti Audit

Dengan pengalaman, kompetensi, dan keyakinannya auditor harus sangat menentukan bukti audit yang mendukung pemeriksaannya guna dapat memberikan pendapat (opini) atau melaporkan temuan dan memberikan rekomendasinya.
Dari segi pandang audit keuangan, bukti audit terdiri dari sktruktur pengendalian intern, data akuntansi yan terdapat pada catatan akuntansi serta informasi penguat.

Jenis Bukti Audit
Bukti audit dapat dikategorikan dengan beberapa cara, antara lain:
a) bukti langsung/bukti tidak langsung
Bukti langsung adalah bukti audit bersifat fakta atau dokumen sah yang langsung terkait dengan kegiatan pemeriksaan. Contoh ialah: sertifikat hak milik tanah jika auditor menguji keabsahan kepemilikan tanah auditee atau biaya pos tertentu berupa bukti pembelian dan pembayaran sah aslinya. Sedangkan bukti tidak langsung misalnya ialah bukti yang harus disimpulkan sendiri oleh auditor berdasarkan bahan bukti tertentu. Contoh misalnya untuk memeriksa apakah suatu mesin benar-benar telah diperbaiki sehingga kondisinya sesuai yang dilaporkan harus disimpulkan sendiri oleh auditor.
b) bukti utama (primer)/sekunder
bukti utama ialah misalnya surat perjanjian atau kontrak, surat asli utang piutang dari pelanggan, rekening koran dari bank. Sedangkan bukti sekunder misalnya adalah bila surat-surat tersebut bukan yang Sali melaikan copy, dan bahkan kadang-kadang sudah dengan coretan tambahan dengan pen tulisan tangan.
c) fakta atau informasi dan hasil analisis
d) record/testimonial evidence.

Instrumen Pemeriksaan
a) Observasi (Pengamatan)
Observasi atau pengamatan adalah cara memeriksa dengan menggunakan panca indera terutama mata, yang dilakukan secara kontinyu selama kurun waktu tertentu untuk membuktikan sesuatu keadaan atau masalah.
b) Wawancara, Tanya Jawab (Interview)
Wawancara merupakan teknik pemeriksaan berupa tanya jawab secara langsung antara auditor dengan auditee untuk memperoleh bahan bukti audit
c) Kuesioner (Tanya-Jawab Tertulis)
Cara tanya jawab yang mudah dan praktis adalah dengan tertulis. Setelah responden ditentukan, kemudian dikirim surat pengantar beserta daftar pertanyaan (kuisioner) tentang hal-hal yang ditanyakan (sebaiknya dibuat pedoman pengisian dan tanggal jawab yang diharapkan).
d) Konfirmasi
Konfirmasi merupakan upaya untuk memperoleh informasi/penegasan dari sumber lain yang independen, baik secara lisan maupun tertulis dalam rangka pembuktian pemeriksaan.
e) Inspeksi Fisik
Inspeksi merupakan cara memeriksa dengan memakai panca-indera terutama mata, untuk memperoleh bukti atas suatu keadaan atau suatu masalah pada saat tertentu. Inspeksi merupakan usaha pemeriksa uantuk memperoleh bukti-bukti secara langsung; kata langsung di sini berarti pemeriksa sendiri harus berada di tempat dimana keadaan atau masalah tersebut ingin dibuktikan.
f) Prosedur Analisis
Analisis artinya memecah tau menguraikan suatu keadaan atau masalah ke dalam beberapa bgian atau elemen dan memisahkan bagian tersebut untuk digabungkan dengan keseluruhan atau dibandingkan dengan yang lain. Dengan analisis pemeriksa dapat melihat hubungan penting antara satu unsur dengan unsur lainnya.
g) Perbandingan
Perbandingan adalah usaha mencari kesamaan dan perbedaan antara dua atau lebih gejala atau keadaan. Dalam audit terhadap kegiatan keuangan misalnya, pemeriksa melakukan pekerjaan membandingkan seperti:
Membandingkan realisasi penerimaan/pengeluaran dengan jumlah menurun anggaran
Membandingkan pelaksanaan sebenarnya di bidang keuangan dengan pelaksanaan di waktu-waktu yang lalu dengan patokan lainnya yang dipakai oleh badan usaha yang bersangkutan
h) Penelaahan Dokumen
Pada umumnya cukup banyak dokumen yang trsedia pada suatu organisasi untuk ditelaah: bagan arus, bagan organisasi, manual prosedur, manual operasi, manual referensi, netulen rapat, surat perjanjian, dan catatan-catatan historis lainnya. Dokumen-dokumen tersebut bisa dengan mudah diperoleh bisa pula sangat sulit, tergantung pada masing-masing organisasi. Dalam situasi yang baik. Seluruh dokumen yang dibutuhkan dapat diperoleh di perpustakaan pusat, tetapi ada banyak situasi dokumen-dokumen harus dikumpulkan satu per satu lebih dulu. Jika mungkin, dokumen-dokumen penting harus ditelaah sebelum melakukan wawancara. Terutama untuk bagan akun, bagan organisasi, dan notulen rapat dewan direksi. Dokumen-dokumen ini dapat membantu untuk memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai organisasi.